Maw sok-sokan puitis..

120408

Aku bisa membunuh rasa ingin tahuku..

Aku bisa membunuh kerinduanku..

Tapi aku masih tak bisa membunuh perasaanku..

Seperti pecahan kaca..

Bahkan serpihan serbuknya sanggup menyulap putih menjadi merah..

Dan seketika itu pula,

Sayatan dan rintihan beriringan,,

Seperti petikan gitar dengan melodinya..

Dan bila kamu tak bisa membunuh perasaanmu padanya..

Maka ijinkanku untuk hidup di perasaanmu..

Atas nama rindu,,

Atas nama samsara,,

Atas nama cinta..

Sesungguhnya aku tidak dan atau belum bisa mendirikan dua singgasana dalam satu kerajaan cinta..

Karena aku tidak akan mengijinkan sesiapapun yang singgah di atasnya untuk saling menguasai..

Cuma ada aku dan kamu..

Di atas sana..

Biarkan yang lain..

Lupakan yang lewat..

Kita mampu berada di atas sana..

Karena kita sabar meniti kaki pelangi..

Untuk sampai ke puncaknya..

Tanpa kau sadari..

Ribuan menit yang lewat telah membawaku ke puncak pelangi dengan kepak lemah sayapmu..

Membawaku cukup tinggi untuk menerawangi sisi gelap bumi..

Membawaku naik untuk merasakan tamparan bayu yang mungkin jauh lebih tangguh..

Menyiapkan sisik-sisikku untuk lebih tebal dari torehan kapak-kapak kehidupan..

Dan itu sangat cukup..

Kusesali..

Diriku..

Kuharamkan..

Diriku..

Kubenci..

Diriku..

Kuingkari..

Diriku..

Demi kamu..

Demi kamu..

Demi kamu..

Demi kecukupanmu atas sesakku..

Adalah ruang dan waktu takdir kita bertemu..

Adalah malam saksi genderang perang yang kita tabuh..

Adalah pelangi kesamaan yang coba kita raih..

Semua adalah warna yang kita pilih..

Sesak merebak meledak,

Semua di luar kuasaku,,

Di luar keinginanku,,

Atas hasratmu mencukupiku..

Ruang dan waktu tak adil padaku..

Malam menjeratku dengan sepiku..

Gaung genderang memekik di relungku..

Dan pelangi tak punya warna lain selain pekat dan kusam,,

Hanya inginmu yang kucukupi..

Teriakkan pada dinding dan langit-langit kamarmu sayang..

Sampai pekak dan bergaung…

Biarkan bayu mengantarkan pesanmu..

Biarkan malam-malan yang larut menyelimutimu..

Dalam dinginna tangisan alam sesorean..

Sebab aku takkan sampai kepadamu..

Tiap suku kata telah tertahan di ujung lidahku..

Semua takkan sampai kepadamu..

Apa bayu kan menyampaikan rinduku untukmu?

Apa dinding dan langit-langit kan mengerti cintaku padamu?

Apa malam kan menghapus inginku atasmu?

Kan kunanti sampai katamu kan terucap untukku..

Namakanlah ia kebebasan..

Dan ia telah kuletakkan di telapak tanganmu..

Asalkan tetap ada dalam memori,,

Bahwa aku tak memilihkan madu atau racun atas udara yang kau hirup..

Ketika cinta di udara,,

Ku tak perlu paru-paru untuk bernapas..

Ku tak peduli racun atau madu..

Kebebasanmu telah mengikatku dalam jerat mengerikan yang pernah ku terima..

Samsara ini..

Memori malam minggu kelabu manusia-manusia dalam sepinya karamaian..

Mayda Rizky Hapsari feat Adzari Anandito..

Memori di Taman Kuliner..

If one day you feel like crying, call me..

I don’t promise that I will make you laugh, but I can cry with you..

I one day you want to run away, don’t be affraid to call me..

I don’t promise to ask you stop, but I can run with you..

If one day you don’t want to listen anymore, call me..

I promise to be there with you and I promise to be very quite..

Because you’re my friends and I love you..

But if one day you call me and there’s no answer,

Come fast to see me, maybe I need you..

Because when I have unsolved problem,

There’s nothing more I want than you to be my side..

If One Day

_Anonymous_

You just called out my name and you know wherever I am..

I’ll come running, to see you again..

_McFly_

110408

20:00-21:30

Di dalam keramaian Taman Kuliner..

Malam itu kami,

Tony, Bintan, Free, Bayu, Henny, Andri, dan aq sendiri berkumpul di Taman Kuliner dan tambahan Desi Yang dihubungi melalui ponsel. Jujur, kupikir tadinya malam itu akan seperti jam-jam biasa dimana kita berkumpul dan ngobrol ngalor ngidul tentang banyak hal yang paling nggak penting di dunia, ngomongin orang, bersungut-sungut atas nilai MID dan pasti makan minum sampai kembung..

Hahaa..

Tapi tenyata, setelah personil terakhir datang, aq setengah terkejut bahwa beberapa menit kemudian, Free mengambil alih posisi layaknya seorang pimpinan sidang. Membuka forum malam itu dengan salam. Semua menjadi jelas. Apa yang menjadi tujuan kami malam itu, duduk di atas tikar berukuran kurang lebih 2×2 meter di tengah hamparan padang rumput di sudut Taman Kuliner yang sedikit gaduh.

Ada hal-hal yang berubah. Banyak atau sedikit. Sadar atau tidak.

Pertambahan usia serta pertambahan tinggi badan (bagi yang mengalaminya), mengajak kami untuk bersikap lebih dewasa. Agak dipaksakan mungkin. Dan, semua itu membawa dampak yang tidak sedikit bagi kami dan lingkungan di sekitar kami.

Fakultas MIPA UGM sebagai saksi pertemuan kami. Banyak keriangan yang disenandungkan, banyak kenangan yang tak mungkin terabaikan, dan banyak ego yang sengaja diperlihatkan. Mulai dari Matrix 06 dan 07, Survei, Himacup, Rawa Jombor, Prambanan, Pantai Depok, buka puasa bersama, Yogya Chicken, tongkrongan lesehan depan Boulevard, Kali Code, Langgran dan masih banyak lagi adalah saksi dimana ikatan benang merah melilit di antara kaki-kaki kami. Banyak oknum-oknum yang tidak bisa disebutkan satu persatu ikut melilit di antara benang merah yang terjalin ini. Sebut saja beberapa di antaranya adalah Babab, Ninis, Titis, Hari, Ridho, Dicky, Uthe, Sigit, Friska, Poy, Pipink, Arda, Gatih, Lanny, Meky, Marchel, Gatih, Ari2 dan teman-teman Matematika dari berbagai angkatan (maaf untuk yang belum tersebut namanya). Jodoh telah mempertemukan kita.

Tahun ini, 2008, kebanyakan dari kami akan genap berumur 20. dan lagi-lagi kedewasaan dituntut dari usia kami, meskipun sebenarnya usia bukan menjadi tolak ukur suatu kedewasaan. Dan malam ini, kami kembali merajut benang-benang merah yang membelit dan nyaris membuat kami terjungkal (halah, lebai..).

Ke-aku-an telah membawa kami kepada tiitik dimana kebersamaan tidak lagi terasa begitu hangat dan nyaman, sedikit yang berbicara, seolah hanya kait-kait yang dipaksakan. Kami adalah komunitas, keluarga, teman atau persetan dengan segala macam sebutan itu. Malam ini tidak ada lagi “Tim Survey” dan “Trio Kwek-Kwek”,. Malam ini hanya ada kami yang salling merindukan kehangatan.

Banyak keluh kesah yang terlontar, beberapa makian sempat terucap, tak ubahnya karena kami masih terlalu muda untuk menjadi dewasa. Banyak kejujuran yang tersampaikan dan pembenaran yang diajukan, karena tak ubahnya manusia yang kerdil, kami sesungguhnya adalah indididu yang dipersatukan. Tujuh otak, tujuh lidah, dan tujuh perasaan seakan beradu disulut genderang perang. Ada yang memancing penyataan, ada yang menagkis dengan penjelasan, ada yang diam dan mendengarkan, bahkan ada pula yang menjatuhkan bulir-bulir air mata (asal tau aja siapa orangnya.;p).

Jika aq boleh memilih warna untuk malam itu, aq akan pilih merah untuk nyala api yang membakar hati kami dalam mengungkapkan kekesalan dan biru sebiru samudra untuk kelegaan atas pengungkapan segala kejujuran serta coklat untuk tanah demi tanah yang akan kami tapaki bersama di keesokan..

Aku berharap, malam itu akan jadi malam terkenang dimana benang-benang merah ini terajut kembali. Emosi yang masih tertahan biarkan terbawa bayu di keesokan paginya atau menguap di teriknya matahari esok siangnya. Kita akan menjadi yang takdir yang Dia ciptakan dalam kebersamaan.

Mari kita mendayung di perahu yang sama meskipun kita terhenti di pelabuhan yang berbeda,

Mari kita egois atas idealisme kita karena itulah kekayaan seorang mahasiswa,

Mari kita melantunkan syair-syair cinta yang memperkuat perjodohan kita,

Mari kita berjuang bersama di tengah rimba Matematika yang menjerat kita,

Mari kita berbagi keluh dan bertukar peluh untuk menaklukan bumi pijakan kita,

Mari kita berkawan sampai surga telah sampai waktunya untuk menjemput kita.

With luv,

_May_

Mayda on Twitter

RSS Simply ask me..

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 229 other followers