Berani Beli Cinta Dalam Karung?


Berani Beli Cinta Dalam Karung?-Puthut EA
Tentang cinta..
Tentang perjuangan..
Tentang pergerakan..
Tentang semangat..
Tentang pesakitan..
Tentang darah-darah yang mendidih di usia muda..
Lelaki. Anak muda yang jatuh cinta, selalu jatuh cinta, dan lagi-lagi jatuh cinta. Sampai ia menemukan seseorang yang benar-benar ia cintai, dan ditinggalkan. Semua tampak hancur di matanya. Ditemani dengan teman-teman terlarangnya, ia mencoba bertahan dalam rasa sakit dan menenggelamkan diri dalam pekerjaannya sebagai seorang penulis. Sebagai lelaki, dia mengikuti nalurinya untuk selalu berburu, dalam rasa sakit itu ia mencari cinta selanjutnya. Namun, ia ragu-ragu, selalu ragu-ragu. Sampai perempuan itu datang lagi ke kehidupannya. Semua benteng yang pelan-pelan dibangun, perlahan kembali runtuh. Dan ia memutuskan. Menghentikan perburuan sampai luka itu benar-benar terobati. Sampai ia menemukan perempuan lain. Namun ternyata….
Cinta memang tak pernah tepat waktu…
Dalam masa-masa pengobatannya atas rasa sakit itu, dia harus berperang dengan masalahnya yang lain. Masalah politik yang berkecamuk, ketergantungannya teradap obat-obatan terlarang, deadline dari perkerjaanya, dan kemalasan itu sendiri. Sosok itu, yang namanya tidak pernah disebut oleh Puthut, diceritakan sebagai alumnus mahasiswa Universitas Gadjah Mada Fakultas Sastra Indonesia. Bekerja serabutan sebagai seorang penulis tanpa terikat suatu instansi atau lembaga apapun selama lebih dari 5 tahun. Diceritakan, dalam komunitasnya, seseorang yang bergabung dan bertahan dalam kondisi sperti itu lebih dari 3 tahun, diistilahkan sebagai ‘Detektif Partikelir’, sementara dia yang lebih dari 5 tahun, diistilahkan sebagai ‘Pembunuh Bayaran’, selanjutnya untuk yang mampu bertahan dengan kondisi seperti itu lebih dari 10 tahun disebut ‘Setan Belang’, dan ketika memasuki tahun kedua puluh akan mendapat sebutan ‘Dewa Laut’.
Dia mempelajari yoga dan meditasi, untuk mengobati dirinya sendiri secara fisik dan mental. Dan pada akhirnya, dia memenangkan perang itu, meskipun harus lagi-lagi kalah terhadap perempuan.
Ide ceritanya sederhana. Entah ini merupakan kisah nyata atau bukan, cerita ini seperti hidup dan nyata terjadi di kehidupan sehari-hari kita. Diceritakan dengan alur maju dan mundur, tetapi tidak menimbulkan kebingungan saat membacanya. Runtut peristiwanya jelas. Dan terkadang diselingi kritik terhadap tokoh atau kehidupan yang dijalani tokoh itu sendiri. Meskipun, sebenarnya masih tidak mengerti juga apa maksudnya dengan, ‘Berani Beli Cinta Dalam Karung?’. Tapi, ake setuju dengan kata-katanya bahwa ‘Cinta Tak Pernah Tepat Waktu’. You never know what you’ve got, till it’s gone.

1 Comment (+add yours?)

  1. lili
    Feb 14, 2010 @ 07:28:20

    pinjaman dari teman kuranglebih 3 tahun lalu, baru selesai baca 3 hari kemaren hehehe.
    sedih, lucu, bikin seisi kost-an memberikan nama baru buatku “perempuan gila”. hehehehe

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Mayda on Twitter

RSS Simply ask me..

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
%d bloggers like this: