Aku bisa kecewa, bukan hanya karena lelaki..


Kecewa..
Sakit dan lebih lagi..
Entah mengapa sahabat atau bahkan teman dekat bisa menjadi bagian yang begitu menyakitkan dalam kehidupanku.
Aku diam, tak berkata, tak menangis, namun pedihnya sama ketika seorang kekasih melakukan setitik kesalahan.
Sekalipun aku tak menganggap seseorang itu begitu penting, namun terang saja dan sudah terjadi, dia
sanggup menyakiti egoku begitu dalam.
Aku hanya ingin sedikit bercerita tentang mereka.
Kenapa mereka?
Well, tentu saja karena mereka lebih dari seorang.
Katakan mereka semua perempuan, tidak kurang dan tidak lebih.
Sama sepertiku.

Pertama,
tentang seorang teman seperguruanku, teman yang berjuang di ladang yang sama. Teman yang bertahan di arena
perang yang sama. Teman kuliahku.
Dia adalah seorang teman yang periang dengan kemampuan mencerna kalimat secara terbatas (baca: lemah otak) tingkat menengah,
teman berbagi cerita, teman menghabiskan waktu di salon, teman mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Ketika itu, dia sedang jatuh cinta dengan salah seorang kakak kelas kami. 1 x 25 jam waktunya dia habiskan bersama kakak
kelasnya tersebut. Layaknya anak muda yang dimabuk asmara, dia menjadi pribadi yang lebih tertutup terhadap teman-temannya.
Sampai akhirnya dia begitu jauh digapai, bahkan tak mudah lagi menerima masukan. Dia menjadi orang yang begitu keras kepala.
Dan, begitu hubungannya berakhir, dia menjadi kembali mencari sosok teman yang kemudian dia dapatkan dari teman-teman di
kos-kosannya. Lalu, apa yang membuat dia begitu menyakitiku?
Tidak pasti kapan tepatnya, dia selalu saja menomorsatukan pria yang dicintainya kala itu. Setiap aku menghubunginya,
selalu saja ada alasan yang membuat kami gagal bertemu. Tidak sekali, tidak dua kali, tidak tiga kali, nyaris selalu.
Lepas dari itu, acap kali dia melupakan teman-teman yang berperang bersamanya. Bukan hanya aku atau sesiapa.
Selalu, tanpa diminta, kuberikan soal-soal atau bahan untuk direkomendasikan sebagai bahan pembelajaran, namun dia
selalu tidak pernah mengajak kami turut serta dalam diskusi perkuliahan. Entah mengapa. Apa dirasanya kurang capable?
Sekali, dua kali, tiga kali dan itu cukup untuk untuk membuatku mencari teman diskusi lainnya. Dan kurasa berdiskusi
dengan teman baru ini juga jauh lebih nyaman. Bahkan, sampai sekarangpun, aku selalu memberikan bahan-bahan yang dia minta,
tak peduli dilibatkannya aku atau tidak dalam masalah perkuliahan. Aku tak peduli lagi!

Kedua,
tentang seorang teman yang tinggal bersamaku dalam satu atap. Kami tidak berperang di ladang yang sama. Namum, tidak sedikit waktu
yang kami habiskan bersama. Dia sangat menyukai berbelanja, kapanpun, bersama siapapun, sendiripun bisa dilakukannya. Tak
pernah sekalipun dia bercinta-cintaan. Dia sangat menyukai kawan dekatnya, seseorang yang sampai hari aku menulis ini,
tak jua tahu isi hatinya. Hanya satu hal teringat di kepalaku tentang rasa kecewa itu. Ketika itu aku membuat sebuah rencana.
Bukan rencanaku semata. Bukan hanya aku dan dia menawarkan untuk terpibat di dalamnya. Namun ternyata, hatinya berkata lain.
Dia memutuskan untuk melakukan rencana yang sama denganku, dengan tangan dan otaknya sendiri. Be brave, aku harus menerima
kenyataan pahit bahwa orang ini akhirnya harus mengail di telaga yang sama. Awalnya, keputusan dia begitu sulit kucerna,
entah mengapa aku begitu merasa dihianati. Hal sepele bahkan, sepertinya menjadi sebuah sentilan demi sentilan yang terarah
padaku. Dan dengan berbesar hati, aku mencoba menerima. Perlahan tapi pasti, hal itu tidak lagi menggangguku. Tidak lagi
terasa seperti batu yang kutelan bulat-bulat. Dan aku berbaikan dengan egoku.

Ketiga,
tentang seorang teman yang berteman dengan teman yang telah kuceritakan pada alinea sebelumnya. Teman dimana kami dipertemukan
tepat di bawah atap yang sama. Dia adalah orang yang begitu temperamental dengan atau tanpa gejala pre menstruasi syndrome.
Dan tepat saat aku menulis kata demi kata dalam kisah ini, dia tengah menyakitiku. Saat ini dia sedang dimabuk cinta. Malam-
malamnya dihabiskan dengan bincang-bincang panjang antar provider setelah sebelumnya jam demi jam kebersamaan telah dilalui.
Tak selalu memang, tapi tak jarang jua. Dan hari ini aku begitu terluka sampai memancingku untuk kembali mengurai emosi
melalui jalinan alphabet. Malam ini aku tepat pulang jam 10 setelah sebelumnya, aku meminta tolong padanya untuk membukakan
pintu. Telah ku kirimkan pesan singkat melalui ponsel kekasih, sejenak kemudian dia merespon dengan muncul dari beranda
dengan tangan memegang ponsel. Seperti biasanya. Detik demi detik, menit demi menit, tak juga kudengar langkah kaki, sampai
kuputuskan untuk mengirim message lagi. Tak ada balasan. Aku berteriak memanggil kawan yang lain, dan di situlah seorang teman
yang lain menawarkan bantuannya, padahal dia sedang sakit. Sungguh tak enak hati rasanya. Dan aku naik, kuminta penjelasannya,
dia hanya berkata,’Aku gag tau, kan tadi di bawah ada orang, aku lagi telepon soalnya.’ Dan jawabannya cukup membuatku
kecewa begitu dalam.
Sebelumnya dia juga melakukan hal yang serupa. Hari itu aku bersiap berangkat ke kampus. Dan aku menuggunya bersiap karena
malam sebelumnya dia mengatakan ingin berangkat bersama, dan aku mengiyakan. Namun, setelah lama kupanggil, dia baru meluruskan
bahwa dia akan dijemput kekasihnya. Kenapa dia tidak mengatakan sebelumnya? Padahal hari itu aku masih terikat ujian tengah
semester. Dan hari sebelumnyapun dia menanggalkan janji untuk berpacaran tanpa memberi kabar terlebih dahulu. Aku tidak
mengerti otak wanita yang hanya dipenuhi lelaki. Sedetik aku mencoba untuk memahami, detik berikutnya terasa seperti
menelan sampah!

Masih belum memahami kekecewaanku?
Baik, aku akan mengajak kalian untuk menelusuri jalan pikiranku.
Aku adalah seorang wanita yang berteman juga dengan wanita. Sedikit banyak aku tahu bagaimana cara wanita berpikir, mengambil
keputusan, menyelesaikan permasalahan dsb. Aku seseorang yang juga membutuhkan orang lain, itu sebabnya aku menjalin relasi
demi relasi dengan lelaki dan usia yang juga beragam. Dengan berbagai pertimbangan dan pertimbangan lainnya, aku menerima dan memutuskan.
Dan dalam hubunganku dengan relasi-relasi berusia tersebut, aku mengenal pertemanan dengan sesama wanita.
Bayangkan aku adalah seorang yang sanggup memberikan apapun kepada relasi dan pertemanan itu, dan aku sanggup membawa
mereka berdampingan. Di sela aku bersama kekasih, aku sanggup menerima dan meluluskan permintaan, dan atau mengatakan
tidak untuk permintaan yang memang saat itu tidak bisa kupenuhi oleh seorang teman. Aku menahan sebisa mungkin agar tidak timbul rasa kecewa.
Itu sebabnya, ketika keinginanku dialihkan oleh seorang teman wanita demi lelakinya selalu dan selalu, aku mudah naik pitam.
Karena aku sendiri bukan tipikal wanita yang ‘lovers oriented’. Aku menjaga hubunganku dengan keluargaku, adik-adikku,
teman-temanku dengan atau tanpa relasi dengan lelaki.
Dengan siapapun, ketika aku mencintai lebih, maka aku akan lebih mudah disakiti.
Ini adalah ceritaku, tanpa bermaksud menyulut api siapapun. Aku hanya ingin berbagi dan meredam amarahku.

Ketika kalian membaca akhir tulisan ini, emosiku telah menguap mengangkasa.
Aku memaafkan kalian, mereka, sesamaku.
Mengertilah bahwa aku begitu menyayangi kalian, itu sebabnya begitu mudahnya aku terluka.

(dimulai di dalam kamar Kavika yang sempit dan berakhir di dalam bilik Blankonet yang lebih sempit lagi)

1 Comment (+add yours?)

  1. OMARISA
    Apr 21, 2010 @ 10:52:26

    huhhh… sungguh teruja hatiku

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Mayda on Twitter

RSS Simply ask me..

  • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
%d bloggers like this: